Archive for November 11th, 2008
Polisi tangkap ribuan Preman! Lah Polisinya aja juga Preman…
Seperti dikutip dari Kompas.com:
JAKARTA, SENIN – Sebanyak 3.184 preman berhasil diciduk oleh tim Operasi Penegakan Hukum, yang akhir-akhir ini gencar dilaksanakan oleh Mabes Polri. Dari jumlah tersebut, 369 orang ditahan dan diproses secara hukum, dan sisanya, sebanyak 2.917 dibina, dan dilepaskan.
Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Irjen Polisi Susno Duadji, menjamin, operasi yang bertujuan untuk menekan rasa takut masyarakat akibat keberadaan preman akan dilakukan secara terbuka dan transparan.
Sebagai masyarakat, saya menghargai dan sangat mendukung langkah nyata polisi dalam memberantas premanisme di Indonesia. Gebrakan pak kapolri perlu diacungi jempol. Terlebih sekarang masyarakat dimudahkan dalam melaporkan berbagai tindak kejahatan para preman baik melalui call center, sms atau website.
Nah, pertanyaan saya, kalau polisinya yg jadi preman warga harus lapor kemana dong? Saya punya pengalaman gak enak banget sama polisi preman ini. Kejadiannya sekitar bulan puasa lalu. Kakak saya jadi korban tabrakan beruntun dengan seorang pengendara motor wanita lainnya. Mobil dan dua motor di depan sudah minggat lebih dulu. Karena memang kondisinya parah akhirnya di bawa ke dokter terdekat dan motor diangkut polisi. Awalnya polisi menjanjikan untuk mengambil motor setelah selesai berobat. Tapi karena kesiangan dan kantor sudah tutup, kami diharuskan mengambil esok harinya di bagian lalu lintas.
Nah, apes bukan main. Pada waktu pengambilan motor, kami diharuskan membayar uang Rp 350.000,- kepada oknum polisi yg gak jelas ini. Padahal kami telah keluar biaya untuk pengobatan yang juga tidak murah. Hal yang sama untuk korban satunya. Padahal jelas2 mereka berdua adalah korban yang sama2 dirugikan. Bahkan seharusnya bisa menuntut yg menabrak. Nyatanya untuk mengambil motor saja harus membayar sebesar Rp 350rb. Karena keberatan akhirnya kami tawar menjadi 150rb. Yang anehnya saat dimintai bukti pembayaran, petugas enggan memberikan, justru menyuruh kami menyelipkan uang di antara berkas kecelakaan.
Kami tidak puas dan merasa dibodohi polisi, tapi bingung mau ngadu kemana. Sudah terpatri di pikiran kami bahwa dimana2 polisi sama saja. Harapan saya, pak polisi tidak hanya memberangus preman2 di luar, tapi juga memberangus preman2 di dalam tubuh kepolisian itu sendiri.
Berpikir BESAR ala Donald Trump
“Berpikir Besar dan Hajar”… Saya langsung tertarik membeli buku ini begitu membaca judulnya. Buku ini mengingatkan saya pada buku legendaris, “Berpikir dan Berjiwa Besar“, karangan David J. Schwartz. Hanya saja di sini Trump lebih banyak menekankan pada bisnis.
Bila kita membaca buku ini, sangat gamblang sekali dicontohkan bagaimana Trump berpikir besar dan menghajar dalam kehidupan sehari-hari. Trump mencotohkan bahwa orang2 sukses, pengusaha miliarder atau selebritis bisa sukses karena memang memiliki watak yang membedakan dengan kabanyakan orang: sikap, tindakan, keteguhan hati, gairah dan banyak kualitas yang memisahkan pemenang dari pecundang. Ini artinya agar sukses, Anda harus memisahkan diri dari 98% warga dunia untuk masuk ke dalam 2% kelompok istimewa tadi.
Apa yang perlu dilakukan untuk masuk ke dalam kelompok orang2 istimewa tadi? Pertama, jujur lah pada diri sendiri terhadap keadaan dan mimpi Anda ke depan. Untuk menguji ini, di Bab I terdapat beberapa pertanyaan yang harus Anda jawab. Dari sini bisa dilihat jika Anda bermimpi, bermimpi besar lah sekalian. Karena memang untuk menuju sukses diperlukan suatu lompatan dari orang yang bukan siapa-siapa menjadi seseorang. Sebagian besar orang takut untuk berpikir besar. Mereka tak dapat melakukannya. Kenapa? Karena mereka tak dapat membayangkan diri mereka melakukan hal-hal besar, meraka tidak mempunyai pengetahuan, pengalaman atau rekaman jejaknya. Mereka tidak punya embel-embel yang dimiliki orang sukses yang berpikir besar. Bila menyangkut berpikir besar, Anda adalah musuh diri Anda yang terburuk. ![]()


