BATAM Pada Pandangan Pertama
BATAM, pulau yang oleh kebanyakan orang sering disebut sebagai Singapura-nya Indonesia memang benar-benar tempat yang menawan. Saya beruntung sekali bisa merasakan tinggal di pulau ini. Sebelumnya, di tahun 2000 saya memang pernah melewati pulau mungil ini, tepatnya saat melakukan perjalanan ke Medan menggunakan kapal Sinabung. Tapi sayang saat itu tidak bisa turun dari kapal jadi hanya melihat pelabuhan Batam dari atas kapal. Saat itu saya tidak melihat banyak bangunan di sekitar pelabuhan, hanya bukit-bukit berbatu cadas dengan tanah warna merah merekah dan hutan belantara di sekitarnya.
Nah, sembilan tahun berikutnya tepatnya pada 15 Februari lalu, untuk pertama kalinya saya berkesempatan menginjakkan kaki di Batam. Penerbangan Batavia Air dari Jogja yang memakan waktu 2 jam terasa cukup nyaman. Sesaat sebelum pesawat mendarat, lagi-lagi saya disuguhi pemandangan yang sama saat pertama kali saya ke sini dulu. Untaian pulau-pulau kecil yang membentang di kepulauan Riau, lengkap dengan hutan belantara serta tanah berwarna merah yang banyak mengandung bauksit. Memang tanah merah iniĀ menjadi ciri khas pulau-pulau di daerah Kepri. Makanya Anda jangan berharap bisa melihat rentetan sawah dan ladang sayuran seperti kebanyakan daerah di pulau Jawa atau Sumatera.
Sesaat setelah pesawat mendarat, handphone saya berbunyi, adalah driver dari tempat saya bekerja menghubungi saya mengatakan bahwa dia telah menunggu pintu keluar. Ok, tapi saya masih harus menunggu lama untuk mengambil barang bawaan yang seabrek ini. Waktu menunggu saya manfaatkan untuk melihat-lihat area seputar bandara. Ternyata memang bandara Batam cukup besar, memang layak untuk ukuran international airport. Selain lounge bandara yang cukup besar, lengkap dengan sarana belanja dan pertokoan mewah. Hal menarik lainnya adalah landasan bandara di Hang Nadim. Apa pasal? Landasan bandara Hang Nadim adalah landasan bandara terpanjang di Asia Tenggara! Wow, hebat bukan. Konon panjangnya mencapai 4 km lebih. Nah, jika sebelumnya saya hanya membaca fakta ini dari internet dan melihatnya di Google Maps, maka kemarin kesempatan ini tidak saya lewatkan begitu saja. Terlihat memang landasannya sangat panjang, tetapi saya sendiri tak sempat mengukurnya. Silahkan Anda ukur sendiri panjang landasannya jika berkesempatan datang ke sana, he3… ![]()
Oke, sekarang saat yang saya tunggu-tunggu, yaitu berjalan-jalan di kota Batam menuju tempat saya tinggal nantinya. Lima menit keluar dari bandara, pemandangan yang saya dapat masih tidak berubah, banyak hutan dengan tanah berwarna merah. Tetapi ternyata batam tidak sesepi yang saya bayangkan. Memang di sana-sini masih banyak lahan kosong, tetapi bangunan perumahan dan ruko-ruko ternyata sudah sangat banyak dan uniknya bentuk bangunan di sini menggunakan arsitektur modern semua. Mungkin karena umur bangunan yang rata-rata masih baru, sehingga banyak meniru arsitektur modern. Saya tidak menemukan bangunan rumah-rumah kuno di sepanjang jalan. Tetapi memang banyak bangunan yang masih kosong alias belum berpenghuni karena masih baru dibangun. Tapi menurut saya ini hanya masalah waktu saja sebelum semuanya berpenghuni. Hal paling berkesan bagi saya adalah saat melintasi waduk Sei Ladi. Daerah ini terasa sangat alami sekali di tengah-tengah bangunan modern nan megah yang banyak terdapat di batam. Ditambah lagi dengan tekstur tanah di sana yang naik turun dan berbukit. Saya membayangkan betapa asiknya bersepeda di hari minggu melintasi daerah ini. Dimana kanan kiri Anda ada danau besar serta pepohonan rindang yang menjadikan tempat ini terasa sejuk
Jika Anda orang yang menyukai alam seperti saya, pasti mendapatkan keasyikan tersendiri. Lalu bagaimana dengan jalanan di Batam? Saya kira tidak ada masalah. Memang beberapa tempat ada yang rusak parah, tapi ini bisa dimaklumi karena memang setiap hari dilewati truk-truk tronton dari pelabuhan. Jalanan di sini tidak ada yang macet. Padahal sebagian besar menggunakan mobil, sedikit sekali saya lihat yang menggunakan motor. Oh iya, mobil di batam kebanyakan eks Singapore. Sedikit sekali saya melihat mobil asli buatan Indonesia. Cara menandai mobil Indonesia dan eks Singapore cukup mudah. Anda hanya perlu melihat plat nomornya saja. Jika pada bagian belakang tertera huruf ‘X’, itu pasti mobil dari Singapore. Modelnya bagus-bagus dan variasinya juga sangat banyak, tapi sayang mobil ini tidak bisa dibawa keluar Batam. Jadi di Indonesia, Anda hanya bisa menikmati kemewahan mobil ala Singapore di pulau Batam ini, he3…
Oke ini pengalaman pertama saya saat mengunjungi pulau Batam. Tulisan-tulisan saya berikutnya akan bercerita tentang kemewahan tempat wisata serta kehidupan dan kebiasaan masyarakat di Batam. Jadi, silahkan ikuti terus tulisan saya di blog ini…
Regards,
Alva Hendi


sukses yach mas.,.,.buat lomba nya
————-
alva: seeppp, sama2 ya uki.. ^^
uki
2 April 2009 at 10:56
di batam berapa lama mas? udh deket tuh sama malaysia, kapan2 mampir ya.. :p
nurzj
21 May 2009 at 17:27
Waow.. mantabs… kapan yah bisa nyusul maen kesana..???
Hehehehe…
klo ada vacant inpo2 yah dab.. hehe
regard’s
theArjuna
15 July 2009 at 17:23